Live in Peace (Hidup dalam Kedamaian) – Ajahn Brahm Roadshow

Berkesempatan menghadiri Roadshow 2018 Ajahn Brahm di Jakarta ternyata adalah sebuah berkah, Thanks to one of my friend yang uda ngajak. Tahun-tahun sebelumnya saya sering mendengar adanya talkshow Ajahn Brahm tetapi tiketnya selalu habis and ya sebenarnya not really focusing to get one. Tema Ajahn Brahm kemarin yaitu 6 Mei 2018 adalah tentang Live in Peace – Bagaimana Hidup dalam kedamaian. Meskipun saya penganut agama Buddha, saya selalu belajar untuk melihat kebanyakan pandangan secara universal dan inilah suatu berkah ketika saya menemukan satu lagi sosok dan guru untuk panutan hidup yang menjelaskan ajaran Buddha dengan sudut pandang yang universal dan selaras dengan frekuensi sistem kepercayaan saya saat ini.

ajahn brahm roadshow indonesia

Kesan pertama melihat Ajahn Brahm saja sudah penuh dengan energi positif. Begitu memasuki Hall, bukannya langsung duduk di tempat yang sudah disediakan, namun malahan berjalan mengelilingi hall-nya dengan senyuman yang lebar sambil berjabat tangan dan cas dengan orang-orang yang dilewatinya, bahkan bersedia diajak selfie (Sayangnya saya duduk di tengah-tengah gitu), ramah bangettt…, sesuatu yang belum pernah saya temukan di pembicara lainnya. Hal yang menarik lainnya dari acara tersebut adalah pembagian buku-buku hanya dengan memberikan dana sukarela. Bukan hanya 1 buku yang boleh diambil, tetapi anda boleh mengambil sesuka hati anda untuk belasan judul yang tersedia.

Jadi berikut adalah hasil yang didapatkan dari talkshow Ajahn Brahm tersebut.

Live in peace

Sebuah batu yang awalnya ringan, namun ketika dipegang lama-lama, maka akan terasa berat dan makin berat lagi. Batu tersebut kemudian menjadi beban buat kita karena beratnya. Daripada terus bertanya-tanya seberapa beratnya sih batu ini dan mengapa makin berat aja, mending batunya dibuang saja. Selesai perkara, beban pun hilang. Sering kali kita merasa sesuatu adalah beban buat kita. Ntah itu sebenarnya masalah yang ringan atau memang sudah terasa berat, namun daripada dipikirkan terus, disimpan terus dalam hati, yang ada makin lama pun makin berat, maka sebaiknya dilepas saja.

Salah satu intisari dari Talkshow Ajahn Brahm tersebut adalah belajar melepas / mengikhlaskan (Let Go) untuk mendapatkan kedamaian hidup. Segala sesuatu yang terjadi, jika itu adalah hal yang indah, maka bersyukurlah dan let it go setelah berakhir. Ajahn Brahm menceritakan suatu masa di kehidupannya yang tidak sedih sama sekali ketika ayahnya meninggal. Mengapa bisa terjadi padahal beliau sangat dekat dengan ayahnya dan mereka saling menyayangi? Jadi, diceritakan ibarat ketika dirinya menonton sebuah pertunjukan yang hebat yang sangat disukainya, dan ketika pertunjukan itu berakhir, apakah harus sedih dan menangis ? Tidak. Dirinya akan bersyukur telah menonton sebuah pertunjukan yang hebat, dan kemudian Let it go. Begitu juga ketika ayahnya meninggal, Ajahn Brahm yang pada saat itu masih berusia 16 tahun bersyukur telah mempunyai seorang ayah yang hebat selama hidupnya dan kemudian melepaskan kepergian ayahnya (hal lain yang tersirat adalah lakukanlah yang terbaik untuk membahagiakan orang tua ketika mereka masih hidup). Ayahnya pernah berkata kepadanya, ” apapun yang anakku lakukan, baik atau jahat, menjadi orang yang berguna atau tidak berguna, pintu hatinya akan selalu terbuka.” Inilah contoh unconditional love dari orang tua kepada anaknya. Demikian juga ketika¬†melepaskan kepergian orang yang dicintai, suatu pelepasan yang paling susah untuk dilakukan, dan inilah juga yang dinamakan cinta tanpa syarat (unconditional love).

Jadi, salah satu cara bagaimana menciptakan kedamaian dalam hidup adalah dengan melepaskan / mengikhlaskan (Let Go) segala sesuatu yang anda cemaskan / khawatirkan, yang anda takutkan, yang anda dambakan, dan sebagainya. Selain menciptakan kedamaian hidup, melepaskan  / mengikhlaskan ini malahan akan mendatangkan hal-hal ajaib dalam hidup anda. (Baca : The Power of Letting Go).

live in peace ajahn brahm

Hal lain yang diungkapkan (namun yang ini tidak dijelaskan secara detail) adalah “live in present moment“. “Don’t worry, be Happy“. Tersiratnya kayak gini sih : kita hidup di saat ‘sekarang’, yang sudah lewat tidak bisa kembali lagi, yang kita pikir akan terjadi belum terjadi, jadi mengapa harus mengkhawatirkan masa lalu dan masa depan? Nikmatilah setiap momen sekarang dalam hidup anda, dan anda akan menciptakan kedamaian hati dan kedamaian dalam hidup anda.

Menghadapi Kematian

Q : Bagaimana kita dapat ikhlas menghadapi kematian?

Ajahn Brahm : Kita tidak perlu takut menghadapi kematian jika kita telah hidup dengan baik. Pernah ada seseorang yang sudah divonis akan meninggal dalam seminggu ke depan. Yang dilakukan orang itu justru menyelenggarakan acara berkabung sebelum dirinya meninggal, supaya dirinya bisa mendengar kesan pesan dari keluarga dan temannya mengenai sosok dirinya (biasanya di acara berkabung kan selalu mengungkapkan hal-hal yang baik dari orang yang meninggal). ‘Live in Peace before You Rest in Peace’.

Teman Baik dan Buruk

Q: Bagaimana pertemanan mempengaruhi pengembangan diri kita ?

Ajahn Brahm : Suatu hari sekelompok Bhikkhu mengunjungi hutan yang biasanya mereka kunjungi dan disana ada seekor gajah yang jinak dan baik, yang sudah dikenal baik oleh para Bhikkhu. Namun, mendadak gajah itu berubah menjadi jahat dan buas, tidak lagi baik dan jinak. Para Bhikkhu pun heran dengan perubahan sikap tersebut dan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan si gajah. Seorang Bhikkhu kemudian memutuskan untuk bermeditasi di sekitar gajah tersebut pada malam harinya. Ternyata pada saat bermeditasi, dirinya mendapatkan bahwa ternyata kawasan tersebut malamnya selalu didatangi kawanan orang-orang jahat seperti perampok, pengedar narkoba, pembunuh, dan sebagainya untuk berdiskusi dalam beberapa hari itu. Keesokan harinya, sang Bhikkhu memberitahukan teman-temannya yang lain tentang kejadian tersebut dan mereka memutuskan untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat untuk menyebarkan Dharma pada pagi harinya. Akhirnya perilaku gajah juga berubah kembali menjadi jinak dan baik.

Meskipun si gajah tersebut tidak mengerti bahasa manusia, namun energi yang ada mempengaruhinya. Ketika kawanan orang jahat mendiskusikan hal-hal jahat di hutan itu, si gajah pun terpengaruh dengan energi negatifnya. Begitu diberikan energi positif terus menerus, si gajah pun kembali menjadi baik. Begitu juga dengan hubungan antar manusia, energi yang mayoritas akan mempengaruhi seseorang. Jadi, dengan berteman / berasosiasi dengan teman-teman yang baik saja, anda sudah on track untuk hidup yang baik.

 

Persaingan Bisnis

Q : Bagaimana kita dapat tetap mempertahankan nilai-nilai moral dalam dunia dan persaingan bisnis masa ini?

Ajahn Brahm : Suatu ketika, ada seorang pria yang sudah melalang buana untuk sebuah proyek bisnis dan akhirnya menyelesaikan kontraknya yang bernilai sangat besar. Malam itu dirinya bertemu dengan sekelompok investor yang merupakan pengusaha kelas kakap di salah satu negara bagian di Australia. Namun para investor tersebut memberikan syarat kepada pria tersebut agar entertain mereka secara penuh (dugem, bermabuk-mabukan ria, menyewa wanita, dan sebagainya) di malam itu sebelum mereka bersedia menandatangi kontraknya. Keputusan yang berat bagi si pria tersebut karena antara kehilangan kontrak kerjasama bernilai besar yang selama ini sudah dikerjakan dengan menghabiskan banyak biaya dan waktu vs melanggar prinsip-prinsip pribadinya. Akhirnya si pria berkata bahwa dirinya tidak bisa melakukannya karena tidak minum alkohol dan juga tidak mau selingkuh karena sudah punya istri. Malam itu, si pria pulang dengan perasaan kecewa karena mereka juga menolak menandatangi kerjasamanya.

Beberapa saat kemudian, si pria itu mendapatkan telepon yang ternyata adalah para investor tadi. Mereka mengatakan bahwa mereka hanya memberikan tes kecil karena mereka juga tidak akan bekerjasama dengan orang-orang yang menipu istrinya (berselingkuh) karena tentunya juga berisiko menipu partner bisnisnya. Maka dari itu, pria itu sebenarnya telah memenuhi kriteria mereka sebagai partner bisnis dan mengajaknya kembali bertemu untuk menandatangani kontraknya.

Perbedaan Aliran

Q : Di dunia ini ada banyak perbedaan pandangan hidup dan aliran. Bahkan di Buddhisme sendiri dibagi menjadi Theravada, Mahayana, Maitreya, Tantrayana. Bagaimana pandangan terhadap hal ini?

Ajahn Brahm : Berapapun aliran di dalam Buddhisme, walaupun beda jubah dan beda bahasa, sumbernya adalah satu. Ibarat seorang ayah yang mempunyai anak-anak yang kemudian membentuk keluarganya sendiri. Jika benar-benar dipahami, maka sebenarnya inti ajarannya adalah sama. Anda hanya tinggal memilih dimana anda rasa lebih cocok, karena sebenarnya hanya beda nama keluarga saja. Saya juga menciptakan nama keluarga sendiri yaitu HAHAyana.

dan semua orang pun ketawa lagi, mengingat sosok Ajahn Brahm yang bijaksana namun penuh senyum dan humor.

cara mencapai kebahagiaan ajahn brahm

Cheers to Good Life!

 

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Download GRATIS! Ebook Dahsyat Exclusive
GRATIS - Dapatkan Ebook Dahsyat Exclusive "Kunci 8 Faktor Pemberdaya Kehidupan" untuk hidup lebih sukses !
We respect your privacy.